0 VIDEO: Hantaman Dasyat Tsunami Jepang

Dari rekaman video juga menunjukkan kerusakan besar-besaran dari tsunami.
Jum'at, 11 Maret 2011, 17:25 WIB - Eko Priliawito 
VIVAnews - Gempa 8,9 SR yang disusul gelombang tsunami setinggi enam hingga 10 meter, menghantam Jepang. Dua kota yang paling parah adalah Iwaki dan Sedau. Hingga kini warga tewas yang sudah terdata 19 orang. Korban bisa saja bertambah, sebab tim bantuan masih menyisir pesisir timur negeri itu.

Menurut pakar tsunami Institut Teknologi Bandung, Hamzah Latif, tsunami yang terjadi hari ini sebenarnya sudah lama diperkirakan oleh orang-orang yang ada di pantai tersebut.

Gempa dan tsunami yang dasyat seperti hari ini, kata Latif, pernah terjadi pada tahun 1600 an. Saat itu daerah yang paling parah adalah  Fukushima, Chiba, dan Iwati.

Kengerian gempadan tsunami itu diketahui warga dunia lewat foto dan video yang direkam para wartawan dan warga di daerah bencana itu. Foto-foto dan video-video itu memperlihatkan bagaimana air melondong mobil, rumah dan kapal-kapal ke daratan.

Gempa itu  berpusat pada kedalaman enam mil (10 kilometer), sekitar 80 mil (125 kilometer) di lepas pantai timur dan 240 mil (380 kilometer) timur laut Tokyo, terjadi pukul 14:46 dan diikuti oleh lima gempa susulan yang kuat dalam waktu sekitar satu jam.

Hamzah Latif menambahkan, gempa yang tejadi di Jepang juga bisa mengamcam daerah di Jayapura, Biak dan kota yang ada di ujung kepala Pulau Irian. Daerah Maluku Utara, Sulewesi Utara, Menado, Bitung, juga harus memantau informasi ini.

Sumber: VIVAnews 
Read more

0 KANDANG MANDIRI; Kandang Ilmu Berternak Kambing Secara Modern



Laporan: Andry Lionettha Dst. – Wartawan detakNews.com



Kaliwedi Lor, Rabu, 27 Oktober 2010.

Ternyata mengubah paradigma masyarakat tidak semudah yang kita bayangkan,” begitu ujar Dedi Iskandar, S.Pd, sambil senyum-senyum. Rupanya ia masih ingat ketika rapat perdana pembentukan Kelompok Ternak yang diberinya nama “Kandang Mandiri”, pada hari Sabtu, 27 Maret 2010, di rumahnya, Blok M (Mejasem), Desa Kaliwedi Lor, Kecamatan Kaliwedi, Cirebon.

Berawal dari secara iseng memanfaatkan rumput untuk memenuhi kebutuhan pakan domba, yang tumbuh di lahan lapangan sepak bola Desa Kaliwedi Lor secara bersama dengan beberapa peternak domba, Bulkin, Cholid, Drajat dan Karta.  Mereka sadar betapa sulitnya mendapatkan rumput, maka dari itu, agar mudah mendapatkan rumput tersebut mereka berkeinginan untuk melestarikannya. Kemudian mereka melakukan pemupukan, sedangkan biayanya mereka tanggung bersama (patungan). Setelah beberapa waktu berjalan tercetus keinginan untuk membentuk suatu kelompok ternak dengan tujuan agar menghasilkan keuntungan dan kelangsungan berternak.

Menurut Dedi, demikian panggilan akrabnya, suatu hari mereka menemuinya, dan mereka mengutarakan keinginannya untuk membentuk kelompok, “Kata mereka, dengan adanya wadah (kelompok) diharapkan bisa mengembangkan kemampuannya dalam berternak domba, juga mereka menginginkan ada pemasukan untuk tambahan biaya hidup, apalagi panen padi belakangan kurang menjanjikan,” jelas Dedi.

Diakui oleh Dedi, bahwa dirinya tidak punya pengalaman dalam mengelola ternak. Selama ini, memang banyak berkecimpung dalam organisasi, tetapi lebih banyak di organisasi PMR (Palang Merah Remaja) SMP Negeri Gegesik, dimana selama ini sebagai guru (TIK) merangkap Pembina PMR. “Tetapi mereka tetap meminta saya untuk memfasilitasi. Maka dengan kemampuan apa adanya saya sanggupi.” Dedi mengalah
demi warga.

Akhirnya pada hari Sabtu, 27 Maret 2010 keinginan tersebut dibuktikan dengan dilaksanakan rapat perdana yang dihadiri oleh beberapa warga peternak. Mereka yang hadir kebanyakan telah mempunyai keahlian dalam memelihara domba, baik secara tradisional maupun secara modern dengan penggunaan konsentrat sebagai pakan tambahan.  Rapat perdana ini mendapat respon sangat baik dari para peternak. Rupanya mereka benar-benar membutuhkan informasi cara beternak domba yang baik sehingga bukan lagi menjadi sekedar hobby melainkan menjadi sumber penghasilan pokok bagi warga setempat.

Kronologi Pendirian
Karena merasa ada tanggung jawab, maka Dedi Iskandar, S.Pd, pada hari Senin, 29 Maret 2010 ia berkunjung ke Dinas Pertanian di Sumber, Cirebon, bagian Peternakan. Ia bertemu dengan Bapak Herman. Dalam pertemuan itu beliau menjelaskan tentang peternakan domba khususnya yang ada di wilayah Kabupaten Cirebon. Kemudian beliau menunjuk ke bagian Pos Kesehatan Hewan (POSKESWAN) yang berhubungan dengan kesehatan hewan ternak. Informasi yang didapat di Poskeswan berasal dari Bapak Romy. Setelah mendapatkan informasi dari Dinas Pertanian dan Poskeswan selanjutnya ia mendatangi Kantor BP5K yang menangani masalah Pembentukan Kelompok. Di kantor BP5K ini Dedi bertemu Bapak Darsita. Beliau memberikan petunjuk tentang bagaimana tata cara membentuk suatu kelompok ternak.

Ternyata di setiap desa maupun kecamatan telah ada kantor perwakilan yang menangani masalah pembentukan kelompok tani, namun karena ketidaktahuan kami mengenai prosedur pembentukan kelompok ini kami langsung menuju ke Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon. Untuk di kecamatan telah ada yang namanya UPT TANBUNNAKHUT dan UPT BP3K yang menangani masalah pembentukan kelompok, pembinaan kelompok, serta informasi lainnya.

Oleh-oleh dari kunjungan ke Dinas Pertanian, Poskeswan, dan Kantor BP5K kami sampaikan kepada masyarakat peternak yang dituangkan dalam rapat anggota pada hari Rabu, tanggal 31 Maret 2010.

Kunjungan PPL Kecamatan
Hari Jumat, 2 April 2010 kami mendapat kunjungan dari PPL Kecamatan yaitu Bapak Tarmin. Kedatangan beliau setelah mendapat informasi tentang rencana pembentukan kelompok ternak langsung dari Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon. Selanjutnya Bapak Tarmin memberikan informasi secara jelas tentang prosedur pembentukan kelompok.

Minggu, 4 April 2010 kamipun mengadakan rapat anggota lagi untuk membahas nama kelompok ternak. Awalnya disetujui oleh anggota bernama “SUBUR JAYA”, namun setelah dilakukan cek ricek ternyata nama SUBUR JAYA telah banyak digunakan, khususnya untuk kelompok tani, sehingga namapun diganti ke konsep awal yaitu “Kandang Mandiri” dengan asumsi bahwa kelompok ini beranggotakan peternak-peternak dengan kandang masih masing-masing atau belum disatukan dalam suatu kandang kawasan. Selain itu dibahas tentang rancangan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Kelompok.

Pengukuhan Kelompok Ternak “Kandang Mandiri
Rabu, 14 April 2010 merupakan hari yang sangat bersejarah bagi kelompok “Kandang Mandiri”, karena pada hari itu dilakukan Pengukuhan dan Pengesahan Kelompok Ternak “Kandang Mandiri” Desa Kaliwedi Lor, yang dihadiri oleh unsur UPT TANBUNNAKHUT, UPT BP3K, UPT POSKESWAN, dengan Susunan Pengurus Bapak Bulkin sebagai Ketua; Sekretaris I, Bapak Suranto; Sekretaris II, Dedi Iskandar, S.Pd; Bendahara Bapak Iman.

Begitulah awal mereka menyamakan visi dan misi yang tergabung dalam kelompok ternak “Kandang Mandiri”.

Kunjungan ke Pasar Ternak

Untuk memperkenalkan kepada para anggota kelompok ternak “Kandang Mandiri” tentang sistem niaga peternakan, sharing antar kelompok dan instansi serta strategi kesehatan hewan khususnya, pada hari Selasa, 18 Mei 2010, Pukul 06.00 WIB Dedi membawa anggotanya ke pasar ternak Tanjungsari, Sumedang. Rombongan ini terdiri dari perwakilan PPL wilayah Bapak Tarmin dan Bapak Saproni, sedangkan dari Pengurus dan Kelompok yaitu Bapak Bulkin, Suranto, Karta, Iman, dan Dedi Iskandar sendiri.

Pukul 09.00 WIB, mereka sampai di pasar ternak Tanjungsari, hal pertama yang dilakukan ialah bertemu Kepala UPTD Pusat Pelayanan Peternakan dan Perikanan wilayah Tanjungsari, yaitu Bapak Abdul Kholik, S.Pt. Dalam kesempatan tersebut beliau menyampaikan dan memberikan paparan mengenai perkembangan domba di daerah Tanjungsari. Pasar ternak Tanjungsari ini terletak di tempat yang sangat strategis dan merupakan pasar ternak terbesar di jawa barat, aktifitas pasar ternak dimulai sejak dini hari sampai dengan sekitar Pkl. 14.00 WIB.

Abdul Kholik mengatakan, bahwa tak beda jauh dengan wilayah kabupaten yang lainnya, “Untuk wilayah Sumedang sendiri memang banyak bertebaran kelompok-kelompok ternak yang bermunculan, namun tak sedikit pula yang akhirnya gulung tikar karena manajemen kelompok dan dinamika kelompok yang tidak berjalan sebagaimana mestinya,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan, banyak anggotanya yang memanfaatkan kepentingan pribadi di dalam pembentukan  kelompok,  sehingga  ketika  kelompok terbentuk maka anggota kelompok yang masih awam yang akan terkena imbas gagalnya sebuah kelompok. Beliau juga menyampaikan bahwa dalam melakukan pembinaan terhadap kelompok-kelompok yang ada menggunakan tiga metode yang dijalankan yaitu Pembinaan Aktif, Pembinaan Pasif, dan Pembinaan Berimbang.

Pada metode Pembinaan Pasif, maka pihak Penyuluh hanya diam di tempat, di kantor pelayanan, dan peternak sendiri yang datang ke kantor pelayanan seperti yang sekarang ini terjadi ketika hari pasar ternak, maka pembeli dan penjual yang ingin membawa pulang ternaknya terlebih dahulu menyempatkan diri mampir ke kantor pelayanan untuk melakukan suntik multivitamin ataupun obat cacing. Sedangkan pada metode  Pembinaan Aktif , maka pihak pelayanan yang door to door mendatangi lokasi kelompok masing-masing dan menerima aspirasi langsung dari peternak mengenai kelompoknya masing-masing, dan metode yang ketiga adalah metode Pembinaan Berimbang ialah antara peternak dan penyuluh, “Ada kalanya penyuluh mendatangi lokasi kelompok dan peternakpun tak segan untuk berkunjung ke kantor pelayanan.” Jelasnya.

Setelah lama berbincang dengan Kepala UPTD Pusat Pelayanan Peternakan dan Perikanan wilayah Tanjungsari beserta staf, kamipun melanjutkan kegiatan pengamatan langsung ke lokasi pasar ternak yang berada persis di sebelah kantor UPTD, dan yang pasti kesempatan tersebut tidak ditinggalkan oleh anggota kelompok kami untuk sekedar mejeng dengan domba jantan punya orang lain.

Kegiatan dilanjutkan mengunjungi kandang yang ada di sekitar lokasi pasar ternak, hal ini dilakukan untuk membuka wawasan anggota kelompok ternak “Kandang Mandiri” tentang bagaimana kandang yang baik dan sehat itu? Karena selama ini hampir 90% peternak yang ada dalam membuat kandang tidak melihat dari segi kesehatan baik bagi hewan ternak maupun peternak.

Itulah hasil kunjungan di lokasi Pasar Ternak Tanjungsari, Sumedang. Banyak ilmu yang diperoleh terutama untuk kepentingan kelompok. Diharapkan cara berpikir mereka sudah mulai terbuka, dan sedikit demi sedikit akan berkembang, sehingga memelihara hewan ternak tidak lagi sekedar hobi melainkan sebagai peluang bisnis demi peningkatan perekonomian.(*shs)
Read more

0 Iyut Bing Slamet Merasa Menyesal

Iyut Bing Slamet dipindahkan ke ruang tahanan bersama dengan tahanan yang lain.
Kamis, 10 Maret 2011, 17:29 WIB - Finalia Kodrati, Beno Junianto 

VIVAnews - Artis Iyut Bing Slamet, yang tertangkap karena kasus narkoba, masih terus menjalani pemeriksaan di Badan Narkotika Nasional. Setelah menjalani pemeriksaan, adik Bing Slamet tersebut dipindahkan ke ruang tahanan dan bergabung dengan tahanan lainnya.

Dengan topi dan kaos berwarna kuning, pemilik nama Ratna Fairuz Albar ini terlihat keluar dari ruangan pemeriksaan. Tak ada pengacara maupun keluarga yang mendampingi artis tersebut. Iyut berusaha menghindari sorotan kamera yang tertuju padanya. Ia langsung menundukkan kepalanya di antara sekitar lima orang yang mengawalnya.

Sejumlah awak media yang telah lama menunggu mantan artis cilik tersebut berusaha memberikan pertanyaan kepadanya. Tetapi, Iyut hanya diam saja. Tetapi, saat ditanya apakah ia menyesal, Iyut pun menjawab dengan singkat.

"Iya, saya menyesal," katanya dengan suara pelan sambil terus berjalan saat ditemui di BNN, Cawang, Jakarta Timur, Kamis 10 Maret 2011.

Iyut ditangkap pihak kepolisian pada hari Selasa, 8 Maret malam lalu di Hotel Penthouse, Mangga Besar, Jakarta Barat. Sejumlah alat bukti pun didapatkan dari tangan artis yang ikut berperan dalam film 'Merpati Tak Pernah Ingkar Janji' itu. Seperti alat hisap dan sabu-sabu seberat 0,4 gram.

Sumber: VIVAnews
Read more

0 Didemo FPI, Ini Tanggapan Sri Sultan

FPI mengancam akan terus berunjuk rasa sampai Sultan melarang Ahmadiyah.
Kamis, 10 Maret 2011, 15:46 WIB - Elin Yunita Kristanti 
VIVAnews - Kompleks Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu kemarin, jadi ajang demonstrasi. Front Pembela Islam (FPI) mendesak Sri Sultan HB X selaku Gubernur DIY segera mengeluarkan aturan untuk melarang dan membatasi aktivitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia.
 
Ditemui wartawan hari ini, Sultan mengaku belum mengetahui apa pastinya yang dituntut FPI. Maklum, saat unjuk rasa berlangsung dia sedang berada di Australia.
"Saya baca dulu pernyataan resminya, saya kan belum sempat. Jam 09.00 WIB tadi langsung rapat dengan Panja Komisi II DPR RI," kata Sultan usai rapat dengar pendapat dengan Panitia Kerja Komisi II DPR RI di Kepatihan, Kamis, 10 Maret 2011.

Raja Yogya ini juga mengatakan belum bisa mengambil sikap atas tuntutan FPI. "Saya belum mau ambil kesimpulan. Nanti kita lihat pernyataannya dan kami akan merapatkannya dulu," kata Sultan.

Di saat banyak pemerintah daerah berbondong-bondong menerbitkan peraturan untuk menjepit Ahmadiyah, Sultan Hamengkubuwono X malah mengeluarkan pernyataan sebaliknya: ia menjamin tak akan mengeluarkan aturan serupa di Yogyakarta.

"Yogyakarta saat ini damai sehingga tidak perlu ada provokasi," kata Sri Sultan pada 3 Februari 2011 lalu.
Sultan berpandangan keberadaan Ahmadiyah di Yogyakarta selama ini tidak pernah menimbulkan masalah. "Bagi daerah yang mengeluarkan SK pelarangan Ahmadiyah, itu inisiatif mereka untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," kata Sultan.

Dalam aksi demonstrasi yang diikuti sekitar 350 orang kemarin, FPI mengancam akan mendukung Rancangan Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta versi pemerintah, jika Sultan tak segera melarang Ahmadiyah.

Koordinator unjuk rasa sekaligus Juru Bicara FPI DIY-Jawa Tengah, Herman, mengatakan pihaknya siap kembali turun ke jalan. "Kami akan tunggu dalam waktu 1-2 minggu ini, kalau dalam waktu itu Sultan tidak mengeluarkan pelarangan terhadap Ahmadiyah, kami akan demo lagi," kata dia. (Laporan: Erick Tanjung, DIY | kd)


Sumber: VIVAnews 
Read more
 
Powered by Blogger